ASUMSI KELIRU SOAL HARTA DUNIAWI

Selamat membaca lagi di update an artikel kali ini, dibaca dengan sepenuh hati yang tulus dan direnungkan ya , siapa tahu bermanfaat bagi para pembaca sekalian. :-)
 Mari disimak dibawah ini.





“Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..” Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah kesalahan serius yang berangkat dari prasangka negatif tentang harta kekayaan. Harta insya Allah akan kita bawa mati jika harta itu kita belanjakan untuk menyekolahkan 1000 anak yatim, membangun mesjid, memberangkatkan haji orang tua, sedekah untuk orang tidak mampu, membantu korban banjir, membeli 10.000 buku untuk perpustakaan, dst, dst. You get my point, right? Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah salah kaprah yang berangkat dari asumsi negatif : bahwa harta hanya melulu akan dipakai foya- foya dan hura-hura. Betapa salahnya. Betapa naifnya asumsi itu. Komentar : “toh harta tidak akan dibawa mati” sudah terlalu sering kita dengar. Sebuah kalimat, yang kembali, secara implisit berangkat dari premis bahwa harta itu penuh dengan evil (keburukan), dan karena itu layak dijauhi. Sayangnya, premis itu tidak sesuai dengan fakta. Sejumlah riset empirik membuktikan : semakin kaya Anda, maka semakin Anda rajin dan banyak bersedekah pada orang lain. Penelitian itu berimpitan dengan studi lainnya yang menyebut : semakin kaya Anda, maka Anda akan cenderung makin banyak bersyukur. Penelitinya menulis : kemungkinan besar, orang yang makin kaya itu makin banyak bersedekah sebagai wujud rasa syukur mereka yang makin besar (Sonya, 2007). Demikianlah tiga jenis error yang layak dicermati dari tipikal komentar yang sudah saya sebut diatas. Apa kaitannya dengan alam bawah sadar, mindset dan sumber rezeki juga sudah di-ulik. Be careful with your mindset. Because your mindset will define your future life.

Semoga bermanfaat ya. :-)