PESAN MORAL HIDUP

BAGAIMANA STRATEGI MENGHADAPI TUKANG GERTAK
 

Pelaku pemerasan secara emosional biasanya tampak kuat dan tegas. Walaupun mereka memberikan kesan bahwa mereka tahu apa yang mereka inginkan dan mereka siap untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk mendapatkannya, namun kasusnya jarang demikian. Para pemeras biasanya cuma menggertak saja. Mereka memiliki citra diri yang payah dan tak mampu menangani penolakan. Mereka kurang percaya diri untuk mendiskusikan situasi mereka dan mempertimbangkan berbagai macam pilihan, dan amat sangat ketakutan kehilangan apa yang sudah mereka miliki. Mereka biasanya menuduh para korbannya yang bersikap egois, tidak peduli atau memikirkan diri sendiri—semua sifat yang sebenarnya mereka miliki sendiri. Dalam banyak hal, mereka seperti bocah-bocah nakal. Mereka mengajukan tuntutannya dan bila tidak segera dipenuhi, marah besar, mereka menebarkan benih-benih seorang pelaku pemerasan secara emosional. Ingatlah selalu—pelaku pemerasan secara emosional adalah seperti tukang gertak atau bocah-bocah nakal dan semestinya
diperlakukan sesuai dengan itu.Bila Anda merasa bahwa diri Anda adalah korban dari pelaku pemerasan secara emosional, penting bagi Anda untuk memutuskan apakah Anda siap untuk menerima situasi ini ataukah Anda akan melakukan sesuatu terhadapnya. Orang-orang akan selalu memperlakukan Anda dengan cara di mana Anda mengizinkan mereka untuk memperlakukan Anda. Bila Anda adalah seorang korban, itu karena Anda telah membiarkannya. Namun sebagaimana halnya perilaku seorang pemeras telah dipelajari dalam suatu kurun waktu, maka itu dapat diperbaiki seiring dengan waktu. Perbaikan perilaku ini membutuhkan adanya komitmen dan waktu, maka Anda harus bersiap untuk melewati jalan yang terjal dan menempuh perjalanan panjang. Hal pertama yang perlu disadari adalah bahwa si pemeras membutuhkan persetujuan Anda atas sesuatu, bila tidak mereka tidak akan meminta Anda untuk membiarkan mereka melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan. Dengan demikian, dalam kenyataannya, maka Andalah yang berada pada posisi di atas. Tanpa izin Anda, si pemeras merasa tak berdaya. Satu-satunya cara untuk mengendorkan kekuatan Anda adalah dengan memperlihatkan kelemahan. Jangan meminta mereka agar tidak merepotkan dan jangan mau menerima kesalahan apa pun yang dituduhkan atas situasi itu. Jangan berusaha memahami bagaimana perasaan si pemeras. Ingatlah selalu bahwa diri Andalah yang sedang
diperas dan yang penting adalah bagaimana perasaan Anda. Jangan pernah berusaha untuk melakukan pemerasan balasan. Manakala tuntutan-tuntutan, ancaman-ancaman dan tuduhan-tuduhan si pemeras mulai mengalir, adalah suatu hal yang esensial bagi Anda untuk menyiapkan stok tanggapan yang sudah jadi. Mungkin ini tidak Anda miliki secara alami maka praktikanlah hingga hal ini menjadi bagian dari diri Anda. Apa Yang Dapat Anda Katakan Kepada Seorang Pemeras
“Oke, tapi itu adalah pilihanmu.”
“Maaf, tapi kamu sendiri yang memilih untuk merasa begitu.”
“Terang saja kamu marah. Ayo kita diskusikan hal ini pada saat kamu tidak sedang kacau.”
“Yah, pendapat-pendapatmu nggak sama denganku.”
“Bisa kulihat kamu tidak bahagia, namun begitulah adanya.”
“Kupikir hal ini perlu banyak dipikirkan. Ayo kita bicarakan nanti.”
“Kita melihat segala hal secara berbeda.”
“Mungkin engkau benar. Pertimbangkanlah sejenak sebelum kita membuat keputusan.”
“Tampaknya kamu kecewa, namun hal ini tak dapat dinegosiasikan.”




Penolakan untuk bersikap lemah atau segera bernegosiasi agaknya mendatangkan periode keheningan atau kedongkolan dari si pemeras. Ini seringkali adalah titik di mana sang korban mengalah. Situasinya pada akhirnya harus dipecahkan—namun ini semestinya hanya tatkala si pemeras sudah siap untuk mendiskusikan situasinya secara dewasa dan rasional. Selama masa keheningan dari si pemeras, jangan mengeluh tentang masalah itu, karena hal ini akan membuat si pemeras tahu bahwa Anda frustrasi dan keadaan inilah yang memberikan kekuatan kepadanya. Katakan saja, “Aku mau membicarakan masalah, kalau kamu juga sudah siap.” Hindarkan ancaman, cercaan, atau serangan balasan terhadap kelemahan si pemeras. Si pemeras akan merasa tak berdaya dan putus asa namun masih perlu menyelamatkan mukanya. Bila keadaan mereda untuk sebuah kompromi, maka tetapkanlah batasan-batasan Anda dan tetaplah berjalan lurus dengan itu. Bila si pemeras membuat Anda merasa tidak nyaman, tolaklah dari mengikuti apa pun yang sedang mereka katakan. Jangan bertengkar atau berdebat dengan pemeras—latihlah mereka. Dengan menggunakan tanggapan-tanggapan yang telah kita bahas tadi, Anda dapat memperbaiki kelakuan si pemeras. Para pemeras menaruh hormat pada orang-orang yang punya pendirian yang teguh.